
Rupiah melemah tipis ke Rp16.693 per dolar AS di tengah konsolidasi pasar. Investor mencermati data perdagangan, inflasi Indonesia, proyek energi hijau, serta ancaman tarif dan risiko shutdown pemerintah AS.
PipTrail – Rupiah memulai pekan dengan pergerakan konsolidatif setelah sempat menyentuh level terendah harian di Rp16.634 per dolar AS sebelum kembali ke Rp16.693 menjelang sesi Eropa pada Selasa (30/9). Pergerakan ini mencerminkan pelemahan tipis 28 poin atau sekitar 0,18% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.670.
Kondisi ini menunjukkan rupiah masih berupaya menstabilkan diri setelah pada akhir pekan lalu mendekati area psikologis Rp16.800. Para pelaku pasar menilai, arah rupiah masih akan banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk potensi penutupan pemerintahan Amerika Serikat (shutdown), ketidakpastian kebijakan suku bunga Federal Reserve, hingga dinamika harga komoditas global.
Secara teknis, kurs USD/IDR diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp16.330–Rp16.700 sepanjang perdagangan hari ini. Indeks dolar AS (DXY) sendiri berada pada fase konsolidasi, melemah di tengah ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober mendatang.
Sorotan Domestik: Data Perdagangan, Inflasi, dan Proyek Energi Hijau
Investor juga menaruh perhatian besar pada sejumlah rilis data ekonomi domestik yang dijadwalkan minggu ini.
Data Perdagangan
Berdasarkan survei Reuters, surplus perdagangan Indonesia pada Agustus 2025 diperkirakan menyempit menjadi sekitar USD4 miliar, turun dari USD4,18 miliar pada Juli. Kinerja ekspor diproyeksikan tumbuh 5,5% year-on-year, melambat dari 9,86% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, impor diprediksi masih mengalami kontraksi sebesar 1,6%, setelah pada Juli terkontraksi lebih dalam 5,86%.Data Inflasi
Inflasi September diperkirakan meningkat tipis ke 2,5% yoy dari 2,31% pada Agustus. Inflasi inti relatif stabil di 2,2%, sementara inflasi bulanan diperkirakan positif 0,13% setelah sebelumnya mencatat deflasi 0,08%. Data ini penting sebagai barometer daya beli masyarakat sekaligus menjadi pertimbangan Bank Indonesia dalam menetapkan arah kebijakan suku bunga.Sektor Pariwisata
Data kunjungan wisatawan mancanegara juga dipantau ketat. Pada Juli, kunjungan turis asing naik 13,01% yoy, sehingga perkembangan terbaru akan menjadi indikator tambahan terhadap kontribusi pariwisata pada devisa negara.Proyek Energi Hijau Danantara
Dari sisi investasi, Danantara Indonesia berencana meluncurkan delapan proyek waste-to-energy pada akhir Oktober 2025. Proyek percontohan dimulai di Jakarta sebelum diperluas ke kota-kota besar lain di Jawa dan Bali. Setiap 1.000 ton sampah ditargetkan menghasilkan sekitar 15 MW listrik dengan investasi Rp2–3 triliun. Pemerintah menargetkan pembangunan kapasitas total 453 MW hingga 2034, senilai USD2,72 miliar.
Meski dampak jangka pendek terhadap rupiah minim, langkah ini positif bagi arus investasi hijau dan prospek neraca perdagangan jangka panjang.
Eksternal: Tarif Trump dan Ancaman Shutdown AS
Dari sisi eksternal, dinamika politik dan kebijakan perdagangan AS menambah ketidakpastian pasar. Presiden Donald Trump memperluas kebijakan tarif dengan mengenakan:
10% pada kayu lunak dan kayu gergajian,
25% pada produk kayu berlapis,
tambahan bea masuk untuk furnitur, lemari, serta rencana tarif 100% pada film asing.
Kebijakan tersebut mengikuti langkah sebelumnya yang menetapkan tarif 100% untuk produk farmasi bermerek dan 25% untuk truk berat. Gelombang tarif baru ini menciptakan ketegangan pada sektor kayu, furnitur, otomotif, dan farmasi, yang dapat berimbas pada rantai pasok global.
Selain itu, ketidakpastian politik di Washington kian meningkat seiring kebuntuan negosiasi anggaran. Ancaman government shutdown pada 1 Oktober semakin nyata setelah pertemuan Oval Office berakhir tanpa solusi. Demokrat menyoroti perbedaan besar dalam rancangan anggaran, sementara Wakil Presiden JD Vance menilai penutupan hampir tak terhindarkan.
Jika benar terjadi, shutdown akan menghentikan rilis data ekonomi resmi, padahal The Fed sangat membutuhkan sinyal pasar tenaga kerja dan inflasi untuk rapat kebijakan Oktober. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko fiskal sekaligus menekan sentimen pasar global.
Data Ekonomi AS dan Ekspektasi Fed Jadi Penentu
Pelaku pasar juga menunggu sejumlah data ekonomi AS yang dirilis Selasa malam waktu Indonesia, di antaranya:
Indeks Harga Rumah Juli, diperkirakan naik 0,1% setelah turun 0,2%,
PMI Chicago September, diperkirakan meningkat ke level 43 dari 41,5,
Laporan lowongan kerja JOLTS Agustus, dengan konsensus 7,1 juta dibandingkan 7,18 juta bulan sebelumnya.
Selain itu, pidato pejabat The Fed seperti Philip Jefferson dan Austan Goolsbee dinilai krusial dalam memberi sinyal arah moneter. Menurut alat FedWatch CME Group, peluang penurunan suku bunga 25 basis poin pada Oktober mencapai hampir 90%. Ekspektasi inilah yang menahan dolar AS di area lemah dan memberi ruang bagi rupiah untuk tidak tertekan lebih dalam.
Rupiah di Persimpangan Data dan Risiko
Pergerakan rupiah saat ini menunjukkan fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah tipis. Sentimen pasar masih rapuh, terombang-ambing oleh data domestik seperti perdagangan, inflasi, dan proyek energi hijau, serta faktor eksternal berupa kebijakan tarif AS, ancaman shutdown, dan arah kebijakan The Fed.
Selama ekspektasi pemangkasan suku bunga AS masih terjaga, rupiah relatif punya bantalan. Namun, jika gejolak politik di Washington kian memburuk, tekanan eksternal dapat menahan penguatan rupiah. Bagi investor, periode ini menuntut kewaspadaan ekstra dalam mengantisipasi volatilitas pasar valas maupun aset keuangan domestik.





