IHSG Cetak Rekor 9.109 Jelang Keputusan BI-Rate, Asing Jual Bersih & Emas Antam Tembus Rp2,7 Juta

IHSG mencetak rekor 9.109 jelang keputusan BI-Rate pekan ini, asing jual bersih di SBN, imbal hasil stabil, dan harga emas Antam tembus Rp2,7 juta seiring rekor emas global.

PipTrail –Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan tonggak sejarah dengan menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di 9.109 pada awal pekan ini, menegaskan tren bullish yang masih bertahan di pasar saham Indonesia. Meski sempat mundur tipis setelah pembukaan, pergerakan indeks menunjukkan bahwa minat beli investor masih relatif terjaga, terutama menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan berlangsung pekan ini.

IHSG dibuka dengan gap atas di kisaran 9.098 sebelum merayap naik dan menyentuh level 9.109 dalam menit-menit awal perdagangan. Namun, momentum kenaikan belum berlanjut secara konsisten sehingga indeks sempat turun ke area 9.025 sebelum stabil di sekitar 9.070. Pergerakan ini mencerminkan kombinasi antara optimisme pasar dan kehati-hatian menjelang keputusan moneter.

Secara umum, sentimen pasar domestik dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari arah kebijakan BI, arus modal asing, hingga perkembangan harga komoditas global seperti emas. Semua elemen ini berkontribusi terhadap dinamika perdagangan IHSG dalam beberapa hari ke depan.

Kinerja Indeks Sektoral dan Saham Unggulan

Pada sesi pertama perdagangan, kinerja indeks sektoral terlihat beragam. Indeks SRI-KEHATI mencatatkan kenaikan paling signifikan sebesar 0,81 persen, didorong oleh penguatan saham-saham unggulan seperti ASII, AVIA, dan SSMS. Di sisi lain, UNVR mengalami koreksi tajam lebih dari 4 persen, menjadi penyeimbang terhadap kenaikan indeks.

Perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa pergerakan IHSG bukan semata-mata ditopang oleh satu sektor, melainkan hasil dari dinamika pasar yang lebih luas. Investor tampaknya melakukan seleksi saham secara lebih spesifik, mempertimbangkan prospek fundamental masing-masing emiten.

Faktor Politik dan Ekonomi yang Memengaruhi Pasar

Dari sisi politik, Presiden Prabowo Subianto memulai perjalanan diplomatik ke Inggris dan Swiss untuk menghadiri berbagai pertemuan bilateral dan forum ekonomi internasional. Meskipun tidak berdampak langsung terhadap IHSG dalam jangka pendek, langkah ini mencerminkan upaya pemerintah untuk memperkuat hubungan ekonomi global, yang berpotensi berdampak positif bagi iklim investasi Indonesia.

Sementara itu, dari sisi arus modal, Bank Indonesia melaporkan bahwa investor asing melakukan jual bersih sebesar Rp7,71 triliun dalam periode 12–14 Januari 2026. Tekanan jual terbesar terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), meskipun terdapat pembelian bersih di pasar saham.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa investor global masih berhati-hati terhadap aset berpendapatan tetap Indonesia, kemungkinan dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga global dan dinamika pasar obligasi internasional.

Bank Indonesia dalam Sorotan Pekan Ini

Fokus utama pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan pada Rabu, 21 Januari 2026. Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga sebanyak lima kali untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dengan BI-Rate terakhir dipertahankan di level 4,75 persen sejak September.

Sebagian pelaku pasar memperkirakan BI akan kembali mempertahankan suku bunga, mengingat stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah masih menjadi prioritas utama. Namun, setiap sinyal perubahan kebijakan atau panduan ke depan akan sangat diperhatikan oleh investor.

Di sisi pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun berada di kisaran 6,244 persen, relatif stabil setelah rebound dari level terendah pekan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih menunggu arah kebijakan BI sebelum mengambil posisi besar.

Emas Antam Tembus Rekor Baru

Di luar pasar saham, harga emas domestik juga mencetak sejarah baru. Emas Antam 1 gram diperdagangkan di atas Rp2.700.000 untuk pertama kalinya, naik signifikan dibandingkan harga akhir pekan lalu. Lonjakan ini sejalan dengan kenaikan harga emas global yang menyentuh rekor baru di atas $4.690 per troy ons.

Kenaikan harga emas dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, termasuk ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Dengan pasar AS tutup pada hari libur nasional, pergerakan emas ke depan diperkirakan akan dipengaruhi oleh reaksi investor terhadap perkembangan terbaru.

Analisis Teknikal IHSG

Secara teknikal, IHSG berada dalam tren bullish yang kuat, terlihat dari posisi indeks yang jauh di atas Simple Moving Average (SMA) 200 hari. Struktur higher highs dan higher lows yang terbentuk sejak awal 2025 semakin mengonfirmasi tren naik jangka menengah.

Namun, Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 73, menandakan kondisi jenuh beli. Ini berarti IHSG berpotensi mengalami koreksi jangka pendek sebelum melanjutkan kenaikan.

Jika terjadi penurunan, level support penting berada di 9.000 sebagai psikologis, diikuti 8.776 dan 8.525 sebagai area teknis berikutnya. Sebaliknya, jika momentum bullish berlanjut, target kenaikan selanjutnya berada di level psikologis 9.100, 9.150, dan 9.200.

Prospek IHSG ke Depan

Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh keputusan Bank Indonesia, arah arus modal asing, dan perkembangan ekonomi global. Jika BI memberikan sinyal kebijakan yang akomodatif dan stabilitas pasar terjaga, IHSG berpotensi melanjutkan tren kenaikannya.

Namun, investor tetap perlu waspada terhadap potensi volatilitas akibat faktor eksternal seperti kebijakan moneter global dan ketegangan geopolitik.

IHSG memasuki pekan penting dengan posisi di level rekor, didukung oleh sentimen pasar yang relatif positif meskipun dibayangi ketidakpastian kebijakan. Dengan kombinasi faktor domestik dan global yang dinamis, pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan akan menjadi barometer penting bagi arah pasar saham Indonesia di awal 2026.

Related Posts

Harga XAG/USD terkoreksi ke dekat $93,50

Harga perak (XAG/USD) terkoreksi ke dekat $93,50 setelah mencetak rekor tertinggi, tertekan aksi profit taking dan ekspektasi suku bunga The Fed, tetapi ditopang permintaan safe-haven akibat ketegangan tarif Trump–Eropa. Analisis…

AUD Bertahan Tipis 2026

Dolar Australia (AUD) bergerak terbatas saat PBOC menahan suku bunga LPR, ketidakpastian AS–Greenland menekan dolar AS, sementara inflasi Australia meningkatkan peluang kebijakan RBA lebih ketat. Analisis teknikal AUD/USD dan prospek…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *