
Penjualan ritel Indonesia pada bulan Desember 2025 tercatat mengalami pertumbuhan 3,5% secara tahunan (year-on-year). Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,3% pada November 2025, serta berada di bawah prakiraan pasar sebesar 5,5%.
Data tersebut disampaikan oleh Bank Indonesia, yang menunjukkan adanya perlambatan konsumsi masyarakat pada akhir tahun, meskipun masih berada di zona pertumbuhan positif.
Kontributor Pertumbuhan Tahunan
Menurut laporan Bank Indonesia, pertumbuhan penjualan ritel secara tahunan pada periode pelaporan terutama didorong oleh peningkatan penjualan pada beberapa kelompok barang, antara lain:
Suku Cadang dan Aksesori
Makanan, Minuman, dan Tembakau
Barang Budaya dan Rekreasi
Kinerja positif pada sektor-sektor tersebut mencerminkan aktivitas konsumsi yang tetap terjaga, meskipun tidak sekuat bulan sebelumnya.
Pertumbuhan Bulanan Menguat
Secara bulanan (month-on-month), penjualan ritel Indonesia pada Desember 2025 mencatat pertumbuhan 3,1%, meningkat dibandingkan pertumbuhan 1,5% pada bulan sebelumnya.
Pertumbuhan bulanan ini didukung oleh peningkatan permintaan pada beberapa kategori utama, termasuk:
Peralatan Informasi dan Komunikasi
Barang Budaya dan Rekreasi
Suku Cadang dan Aksesori
Makanan, Minuman, dan Tembakau
Peningkatan tersebut sejalan dengan tingginya aktivitas konsumsi masyarakat menjelang periode Natal dan Tahun Baru, yang secara historis mendorong belanja rumah tangga.
Respons Pasar Valuta Asing
Di pasar valuta asing, pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan relatif stabil setelah rilis data penjualan ritel. Hingga laporan ini disusun, USD/IDR berada di kisaran 16.833, nyaris tidak berubah dibandingkan level pembukaan perdagangan hari ini.
Stabilitas pergerakan USD/IDR mengindikasikan bahwa pelaku pasar telah mengantisipasi perlambatan data penjualan ritel tersebut, sehingga tidak memicu reaksi signifikan di pasar forex.
Outlook Singkat
Data penjualan ritel Desember 2025 menunjukkan bahwa konsumsi domestik Indonesia masih tumbuh, namun dengan laju yang lebih moderat. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data ekonomi lanjutan serta arah kebijakan moneter untuk menilai dampaknya terhadap pergerakan Rupiah.




