
Dolar Australia (AUD) bergerak terbatas saat PBOC menahan suku bunga LPR, ketidakpastian AS–Greenland menekan dolar AS, sementara inflasi Australia meningkatkan peluang kebijakan RBA lebih ketat. Analisis teknikal AUD/USD dan prospek pasar.
PipTrail – Dolar Australia (AUD) bergerak relatif datar pada perdagangan Selasa, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar di tengah kombinasi faktor global yang saling bertentangan. Di satu sisi, kebijakan moneter China yang stagnan menekan sentimen terhadap AUD, sementara di sisi lain, pelemahan dolar AS dan data inflasi domestik Australia memberikan dukungan terbatas.
Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) memutuskan untuk mempertahankan Suku Bunga Dasar Pinjaman (Loan Prime Rate/LPR) tidak berubah, dengan tenor satu tahun tetap di 3,00 persen dan tenor lima tahun di 3,50 persen. Keputusan ini mengindikasikan bahwa otoritas moneter China belum siap untuk melonggarkan kebijakan lebih agresif, meskipun ekonomi menghadapi tekanan perlambatan.
Bagi Australia, kebijakan China memiliki dampak signifikan mengingat hubungan perdagangan yang erat antara kedua negara. Setiap sinyal pelemahan ekonomi China cenderung membebani AUD karena berpotensi mengurangi permintaan komoditas Australia.
Ketidakpastian Geopolitik Menekan Dolar AS
Di sisi lain, dolar AS melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait isu AS–Greenland. Presiden Amerika Serikat mengancam akan memberlakukan tarif terhadap sejumlah negara Eropa jika rencananya untuk mengakuisisi Greenland tidak mendapat dukungan.
Ancaman tarif ini memicu respons dari Uni Eropa, yang mulai mempersiapkan langkah-langkah antisipasi dan potensi balasan. Ketegangan ini menciptakan ketidakpastian pasar yang menekan indeks dolar AS (DXY), yang diperdagangkan di sekitar 99,00.
Pelemahan dolar AS memberi ruang bagi AUD untuk bertahan, meskipun tidak cukup kuat untuk mendorong reli signifikan. Pasangan AUD/USD diperdagangkan di kisaran 0,6710, menunjukkan konsolidasi setelah kenaikan moderat pada sesi sebelumnya.
Inflasi Australia Menghidupkan Ekspektasi RBA Lebih Hawkish
Faktor penting yang menopang AUD berasal dari dalam negeri, yaitu data inflasi Australia yang kembali menunjukkan tekanan harga. Indikator Inflasi TD-MI naik menjadi 3,5 persen year-on-year pada Desember, dari 3,2 persen sebelumnya. Secara bulanan, inflasi melonjak 1,0 persen, laju tercepat sejak Desember 2023.
Lonjakan ini memperkuat ekspektasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) mungkin mempertahankan sikap kebijakan moneter yang lebih ketat lebih lama. Dana Moneter Internasional (IMF) juga mengingatkan RBA untuk tetap berhati-hati, mengingat inflasi masih berada di atas kisaran target 2–3 persen.
Meskipun inflasi utama Australia melambat menjadi 3,4 persen pada November, level tersebut masih berada di atas target bank sentral. RBA menilai risiko inflasi masih condong ke atas, meskipun risiko eksternal mulai mereda.
Pasar berjangka suku bunga ASX menunjukkan sekitar 22 persen probabilitas kenaikan suku bunga RBA pada pertemuan berikutnya, menandakan bahwa skenario kebijakan lebih ketat masih dipertimbangkan investor.
Data Tenaga Kerja dan Inflasi AS Membatasi Ruang The Fed
Dari Amerika Serikat, data ekonomi terbaru mengurangi peluang pemangkasan suku bunga lebih cepat oleh Federal Reserve. Klaim tunjangan pengangguran awal turun menjadi 198 ribu, lebih rendah dari ekspektasi, menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid.
Inflasi inti AS pada Desember naik 0,2 persen secara bulanan, dengan inflasi tahunan bertahan di 2,6 persen. Meskipun menunjukkan tanda-tanda moderasi, pejabat Fed belum melihat urgensi untuk memangkas suku bunga sebelum ada bukti lebih kuat bahwa inflasi bergerak berkelanjutan menuju target 2 persen.
Morgan Stanley merevisi proyeksi mereka, kini memperkirakan hanya satu pemangkasan suku bunga pada Juni 2026, diikuti satu lagi pada September, alih-alih awal tahun seperti perkiraan sebelumnya. Prospek ini membuat dolar AS tetap relatif resilien, meskipun tekanan geopolitik membatasi penguatannya.
Kinerja Ekonomi China dan Dampaknya ke AUD
Data ekonomi China menunjukkan gambaran yang beragam. Produksi industri naik 5,2 persen year-on-year pada Desember, didorong oleh ekspor yang kuat. Namun, penjualan ritel tumbuh hanya 0,9 persen, di bawah ekspektasi, mencerminkan konsumsi domestik yang masih lemah.
PDB China tumbuh 1,2 persen secara kuartalan pada kuartal IV 2025, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya dan konsensus pasar. Namun, pertumbuhan tahunan melambat menjadi 4,5 persen, menandakan pemulihan yang belum sepenuhnya merata.
Bagi AUD, data ini berarti bahwa permintaan eksternal terhadap komoditas Australia tetap ada, tetapi risiko perlambatan konsumsi China masih menjadi faktor penghambat.
Analisis Teknikal AUD/USD
Secara teknikal, pasangan AUD/USD menunjukkan bias netral hingga sedikit bullish dalam jangka pendek. Harga bertahan di atas Exponential Moving Average (EMA) sembilan hari di sekitar 0,6700, mengindikasikan bahwa tren naik jangka pendek masih terjaga.
Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di 56,70, di atas level tengah 50, menunjukkan momentum yang masih condong ke atas. Jika harga mampu menembus resistance 0,6766, level tertinggi sejak Oktober 2024, maka peluang kenaikan lebih lanjut terbuka.
Namun, jika AUD/USD turun di bawah EMA sembilan hari, support berikutnya berada di EMA 50-hari di sekitar 0,6646. Penurunan lebih dalam dapat menguji level 0,6414, yang merupakan titik terendah sejak Juni 2025.
Prospek AUD ke Depan
Prospek dolar Australia dalam beberapa pekan ke depan akan sangat bergantung pada tiga faktor utama, kebijakan RBA, perkembangan ekonomi China, dan arah kebijakan Federal Reserve.
Jika inflasi Australia tetap tinggi, RBA berpotensi mempertahankan sikap hawkish, yang akan mendukung AUD. Sebaliknya, jika data China menunjukkan perlambatan lebih lanjut, tekanan terhadap AUD bisa meningkat.
Sementara itu, ketidakpastian geopolitik AS–Eropa dapat terus membebani dolar AS, memberi ruang bagi AUD untuk bertahan atau bahkan menguat terbatas.
Secara keseluruhan, AUD saat ini berada dalam fase konsolidasi, menunggu katalis baru dari data ekonomi dan keputusan bank sentral global.




