
IHSG mencetak rekor tertinggi baru di 9.021,14 namun bergerak tertahan setelahnya. Minim katalis domestik membuat investor menahan aksi jelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pekan depan, sementara emas Antam kembali cetak rekor.
PipTrail – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan sejarah dengan meraih rekor tertinggi baru sepanjang masa di level 9.021,14 pada perdagangan sesi pertama. Indeks dibuka dengan gap atas di 9.007,05 dan langsung bergerak menguat dalam satu jam awal perdagangan.
Meski sempat mencetak rekor, pergerakan IHSG terlihat kehilangan momentum lanjutan dan kembali bergerak mendekati level pembukaan. Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar, terutama karena tidak adanya rilis data ekonomi domestik yang dapat menjadi katalis lanjutan.
Pada sesi yang sama, IHSG berada di level 9.001,85, menguat 0,60% dibandingkan penutupan hari sebelumnya, namun belum menunjukkan dorongan yang cukup kuat untuk melanjutkan reli ke area yang lebih tinggi.
Kinerja Indeks Saham: Mayoritas Hijau
JII Jadi Salah Satu Indeks Terkuat
Sebagian besar indeks saham Indonesia bergerak di zona hijau pada sesi pertama perdagangan. Hanya INFOBANK15 dan SRI-KEHATI yang tercatat melemah, sementara indeks lainnya menguat.
Indeks Jakarta Islamic Index (JII) menjadi salah satu yang berkinerja terbaik dengan kenaikan 1,03%. Penguatan JII ditopang oleh lonjakan sejumlah saham berkapitalisasi besar dan menengah.
Saham Penggerak Utama
Beberapa saham yang memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan indeks antara lain:
- ANTM melonjak lebih dari 5%
- BRMS menguat tajam
- EXCL mencatatkan kenaikan solid
- BUMI turut memperpanjang reli
Kinerja saham-saham tersebut mencerminkan masih kuatnya minat risiko investor, meskipun indeks utama mulai bergerak mendatar.
Sentimen Ekonomi dan Perdagangan Regional
Kerja Sama Indonesia–Kanada
Dari sisi sentimen, perhatian pasar tertuju pada pertemuan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI dengan Menteri Pembangunan Internasional Kanada di Jakarta. Pertemuan ini berlangsung di tengah implementasi Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang ditandatangani pada September 2025 dan diprakirakan efektif mulai 2026.
Perjanjian ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih kondusif serta mendorong peningkatan investasi dan volume perdagangan bilateral.
Langkah Lanjutan dengan Pakistan
Selain itu, Indonesia dan Pakistan juga menandatangani Nota Kesepahaman pembentukan Joint Trade Committee. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden RI ke Pakistan pada akhir 2025 dan menjadi bagian dari upaya peningkatan kerja sama perdagangan menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada 2027.
Fokus Pasar: BI Rate Pekan Depan
Kalender ekonomi Indonesia pada hari ini terpantau kosong, sehingga perhatian pelaku pasar mulai beralih ke keputusan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan pada Rabu pekan depan.
Konsensus pasar saat ini memperkirakan BI-Rate akan tetap dipertahankan di level 4,75%, seiring stabilitas inflasi dan nilai tukar. Absennya katalis jangka pendek membuat pergerakan IHSG cenderung tertahan dalam rentang sempit.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di 6,179%, dibuka dengan gap atas dan membalikkan tren pelemahan tiga hari sebelumnya.
Emas Antam Kembali Cetak Rekor
Harga Tembus Rp2,6 Juta
Harga emas Antam kembali mencatatkan rekor tertinggi baru sepanjang masa. Emas Antam 1 gram diperdagangkan di Rp2.665.000, naik Rp13.000 dibandingkan hari sebelumnya.
Kenaikan ini sejalan dengan pergerakan harga emas dunia yang sebelumnya mencetak rekor tertinggi baru di atas USD 4.600 per troy ons, meskipun sempat mengalami koreksi intraday.
Menanti Data AS dan Pernyataan The Fed
Ke depan, harga emas berpotensi dipengaruhi oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat seperti inflasi produsen dan penjualan ritel, serta pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS terkait arah kebijakan moneter.
Analisis Teknikal IHSG
Masih Sideways, Tren Jangka Panjang Tetap Bullish
Secara teknikal, IHSG masih bergerak sideways setelah mencetak rekor tertinggi baru. Indeks belum menunjukkan arah dominan yang tegas, namun tetap berada dalam tren bullish jangka panjang.
IHSG bergerak jauh di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari, yang mencerminkan kekuatan tren naik sejak titik terendah tahun 2025. Struktur higher high dan higher low masih terjaga dengan baik.
RSI Masuk Zona Jenuh Beli
Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di kisaran 70, menandakan momentum bullish namun mulai memasuki area jenuh beli. Kondisi ini membuka peluang konsolidasi jangka pendek sebelum pergerakan berikutnya.
Jika berhasil menembus batas atas kisaran secara meyakinkan, target IHSG selanjutnya berada di area 9.050 hingga 9.150. Sementara itu, area support penting berada di kisaran 8.776 hingga 8.288.




