IHSG Cetak Rekor 8.895, Inflasi 2,92%

IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di 8.895 meski terkoreksi tipis. Inflasi Desember 2025 naik ke 2,92%, emas Antam tembus Rp2,54 juta.

PipTrail – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan tertinggi baru sepanjang masa di level 8.895, meskipun kemudian memangkas sebagian kenaikannya pada sesi perdagangan awal. Indeks dibuka dengan gap atas di 8.890 dan sempat melesat cepat sebelum tekanan jual muncul secara bertahap.

Pada saat pengamatan terakhir, IHSG berada di kisaran 8.863, masih menguat tipis dibandingkan penutupan sebelumnya. Capaian ini memperpanjang tren positif setelah indeks mencatatkan penguatan selama empat hari perdagangan berturut-turut.

Pergerakan tersebut menunjukkan optimisme pasar yang masih terjaga, meskipun investor mulai bersikap lebih selektif di level harga yang semakin tinggi.

Mayoritas Indeks Sektoral Melemah

Meskipun IHSG mampu mencetak rekor baru, kondisi internal pasar menunjukkan tekanan pada sebagian besar indeks sektoral. Beberapa indeks utama bergerak di zona merah pada sesi pertama, mencerminkan aksi ambil untung setelah reli beruntun.

JII Terkoreksi Meski Sempat Cetak Tertinggi 2026

Jakarta Islamic Index (JII) menjadi salah satu indeks dengan tekanan terbesar. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama, terutama dari sektor telekomunikasi dan energi.

Namun demikian, tekanan tersebut sebagian terimbangi oleh saham-saham tertentu yang masih mencatatkan kenaikan signifikan. Kondisi ini menandakan bahwa rotasi sektor masih berlangsung, bukan aksi jual menyeluruh di pasar.

Data Inflasi Indonesia Jadi Perhatian Utama

Sentimen domestik turut dipengaruhi oleh rilis data inflasi terbaru. Inflasi Indonesia pada Desember 2025 naik menjadi 2,92% secara tahunan, meningkat dari 2,72% pada bulan sebelumnya.

Inflasi Inti Melampaui Perkiraan

Inflasi inti tercatat 2,38% year-on-year, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan juga melampaui ekspektasi pasar. Kenaikan inflasi inti mencerminkan tekanan harga yang lebih persisten, khususnya dari sisi permintaan domestik.

Data ini memperkuat pandangan bahwa stabilitas harga tetap menjadi fokus utama kebijakan moneter, sekaligus menjadi variabel penting yang dipertimbangkan pelaku pasar saham dan obligasi.

Neraca Perdagangan Tetap Surplus

Dari sisi eksternal, kinerja perdagangan Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Neraca perdagangan periode Januari–November 2025 mencatat surplus lebih dari USD38 miliar, terutama ditopang oleh sektor nonmigas.

Meskipun ekspor mengalami kontraksi tahunan pada November, peningkatan impor mencerminkan aktivitas ekonomi domestik yang masih berjalan. Kombinasi ini memberikan sinyal campuran, namun belum cukup untuk mengganggu sentimen positif pasar saham secara keseluruhan.

Pasar Obligasi Relatif Stabil

Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun dibuka dengan gap bawah di kisaran 6,10% dan cenderung bergerak datar. Stabilnya imbal hasil obligasi menunjukkan bahwa pasar pendapatan tetap masih tenang meskipun inflasi menunjukkan kenaikan.

Kondisi ini memberi ruang bagi pasar saham untuk tetap atraktif, terutama bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi di tengah stabilitas suku bunga jangka menengah.

Emas Antam Tembus Rp2,54 Juta

Di luar pasar saham, harga emas domestik kembali mencetak kenaikan signifikan. Emas Antam 1 gram diperdagangkan di level Rp2.549.000, naik tajam dibandingkan hari sebelumnya.

Geopolitik Dorong Aset Safe Haven

Kenaikan harga emas sejalan dengan lonjakan harga emas global yang didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik. Kondisi global yang tidak pasti mendorong investor untuk meningkatkan alokasi pada aset safe haven, termasuk emas.

Selain faktor geopolitik, pasar juga bersiap menghadapi rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama data ketenagakerjaan yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter global.

Analisis Teknikal IHSG: Tren Bullish Masih Utuh

Dari sisi teknikal, IHSG berhasil menembus fase konsolidasi jangka pendek dengan mencetak rekor tertinggi baru. Indeks bergerak solid di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari, yang menegaskan dominasi tren naik.

Struktur Higher High dan Higher Low

Sejak titik terendah tahun sebelumnya, IHSG telah membentuk lima higher high dan empat higher low, sebuah struktur klasik yang menandakan tren bullish berkelanjutan.

Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di kisaran 68, menunjukkan momentum kuat meskipun mendekati area jenuh beli.

Level Teknis yang Perlu Diperhatikan

  • Target kenaikan: 8.900, 8.950, hingga 9.000
  • Support terdekat: 8.525
  • Support lanjutan: 8.288 dan 8.000

Jika terjadi koreksi sehat untuk menetralkan kondisi jenuh beli, area support tersebut berpotensi menjadi penahan penurunan.

Rekor Baru dengan Waspada Koreksi

IHSG berhasil mencetak rekor baru di tengah kombinasi sentimen positif dan kehati-hatian investor. Kenaikan inflasi, stabilitas obligasi, serta lonjakan harga emas membentuk lanskap pasar yang kompleks namun masih kondusif.

Selama tren teknikal tetap terjaga dan tidak ada guncangan eksternal besar, IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan. Namun, investor disarankan tetap mewaspadai potensi koreksi jangka pendek seiring indeks bergerak di area harga yang semakin tinggi.

Related Posts

Gubernur Baru RBNZ Tegaskan Kesiapan Sesuaikan Kebijakan Jika Prospek Inflasi Berubah

Gubernur baru Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), Anna Breman, menyampaikan bahwa komite kebijakan moneter siap menyesuaikan arah kebijakan apabila prospek inflasi mengalami perubahan. Ia menegaskan bahwa setiap langkah penyesuaian…

USD/INR Melemah ke 90,50, Rupee Menguat di Tengah Data AS dan Kesepakatan Dagang

Pasangan mata uang USD/INR melemah pada perdagangan Kamis setelah mencatat kenaikan moderat di sesi sebelumnya. Pelemahan terjadi ketika Rupee India (INR) menemukan dukungan, sementara sebagian besar mata uang Asia bergerak…

One thought on “IHSG Cetak Rekor 8.895, Inflasi 2,92%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *