
IHSG bergerak sideways di area 8.620 menjelang akhir pekan. Pendapatan Negara Indonesia mencapai Rp2.351,5 triliun, sementara emas Antam sedikit terkoreksi.
PipTrail – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan pergerakan sideways di area 8.620 hingga akhir pekan. Pada saat berita ini ditulis, IHSG berada di level 8.620,19 atau menguat tipis 0,02% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan indeks mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar di tengah minimnya rilis data ekonomi domestik hingga akhir tahun.
IHSG membuka perdagangan di 8.657,24 dan sempat mencetak level tertinggi harian di 8.671,76 pada awal sesi. Namun, seperti pola yang terlihat dalam beberapa hari terakhir, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Indeks kemudian berbalik turun dan menyentuh level terendah harian di 8.614,21 dalam satu jam pertama perdagangan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar masih kesulitan menemukan katalis baru untuk mendorong pergerakan yang lebih signifikan, khususnya setelah IHSG mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa pekan lalu.
Kinerja Indeks dan Saham Unggulan
IDXBUMN20 Menjadi Penopang
Di tengah pergerakan IHSG yang cenderung datar, indeks-indeks sektoral dan tematik menunjukkan kinerja yang beragam. Salah satu indeks dengan performa terbaik adalah IDXBUMN20 yang menguat 0,41% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penguatan IDXBUMN20 ditopang oleh beberapa saham berkapitalisasi besar, terutama ANTM yang melonjak 2,25%, diikuti PGAS yang naik 1,9%, serta JSMR yang menguat 0,89%. Kenaikan indeks ini sebagian didorong oleh gap up pada pembukaan perdagangan, yang kemudian relatif stabil hingga sesi berjalan.
Pasar Mencerna Laporan APBNKITA
Pergerakan pasar saham domestik juga dipengaruhi oleh laporan APBNKITA terbaru yang disampaikan pemerintah. Pelaku pasar tampak mencerna data fiskal tersebut di tengah kalender ekonomi Indonesia yang relatif sepi menjelang pergantian tahun.
Pendapatan Negara Capai Rp2.351,5 Triliun
Rincian Pendapatan dan Belanja Negara
Dalam konferensi pers APBNKITA, Menteri Keuangan Republik Indonesia memaparkan bahwa Pendapatan Negara hingga 30 November 2025 mencapai Rp2.351,5 triliun. Angka tersebut terdiri dari Rp1.634,4 triliun penerimaan pajak, Rp269,4 triliun penerimaan kepabeanan dan cukai, serta Rp444,9 triliun dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Sementara itu, Belanja Negara hingga periode yang sama tercatat sebesar Rp2.911,8 triliun. Belanja tersebut meliputi Rp2.116,2 triliun belanja pemerintah pusat dan Rp795,6 triliun transfer ke daerah.
Dengan realisasi tersebut, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp560,3 triliun atau setara 2,35% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah Optimistis Konsumsi Tetap Kuat
Pemerintah menilai konsumsi rumah tangga masih terjaga dengan baik. Hal ini didukung oleh berbagai stimulus ekonomi, inflasi yang relatif terkendali, serta tingkat optimisme masyarakat yang masih positif. Faktor-faktor tersebut diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional hingga akhir tahun.
Data Ekonomi yang Dinanti Investor
Data penting Indonesia terakhir di tahun ini adalah Uang Beredar M2 bulan November yang dijadwalkan rilis pada Senin, 22 Desember 2025. Meski demikian, perhatian investor mulai bergeser ke awal tahun depan, ketika data PMI Manufaktur S&P Global dan inflasi akan dirilis pada 2 Januari 2026.
Minimnya rilis data dalam waktu dekat membuat pergerakan pasar cenderung teknikal dan dipengaruhi sentimen global.
Pasar Obligasi Masih Stabil
Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tercatat berada di level 6,126% dan relatif tidak berubah pada hari ini. Stabilnya yield ini terjadi setelah obligasi pemerintah ditutup melemah selama empat hari perdagangan berturut-turut sebelumnya.
Secara keseluruhan, yield obligasi telah melanjutkan tren penurunan dari level tertinggi November 2025 di sekitar 6,328%. Kondisi ini mencerminkan stabilnya persepsi risiko investor terhadap aset obligasi domestik.
Harga Emas Antam Sedikit Terkoreksi
Masih Dekat Level Rekor
Harga emas batangan Antam ukuran 1 gram tercatat di Rp2.483.000, turun Rp4.000 dibandingkan harga rekor Rp2.487.000 yang tercapai sehari sebelumnya. Penurunan ini tergolong terbatas dan masih menjaga harga emas di dekat level tertinggi sepanjang masa.
Pergerakan emas domestik sejalan dengan harga emas global yang terkoreksi tipis setelah sempat mencetak level tertinggi baru.
Sentimen Global Masih Berpengaruh
Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan masih dipengaruhi oleh rilis data sentimen konsumen dan ekspektasi inflasi dari Amerika Serikat. Data tersebut berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan emas hingga penutupan pekan.
Analisis Teknikal IHSG
Tren Naik Masih Terjaga
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi atau sideways setelah mencetak rekor tertinggi di 8.776,97 pada pekan lalu. Pergerakan ini dipandang sebagai jeda sehat setelah indeks reli panjang dari level terendah 2025 di 5.882,60 pada April.
Struktur higher highs dan higher lows masih terjaga, mengindikasikan bahwa tren utama IHSG tetap bullish. Hal ini juga diperkuat oleh posisi Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang berada di bawah harga dan bergerak menanjak.
Level Support dan Resistance
Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 56,03, menandakan momentum bullish meski mulai melandai dari area jenuh beli. Jika tekanan jual meningkat, IHSG berpotensi menguji support di 8.622,26, kemudian 8.288,27, hingga level psikologis 8.000.
Sebaliknya, jika momentum kembali menguat, resistance terdekat berada di 8.776,97 sebagai rekor tertinggi, diikuti level psikologis 8.800 dan 8.850.





