USD/INR 88,85 Melemah di Awal Perdagangan Jumat Saat Rupee Menguat dan Pasar Menunggu Data WPI

USD/INR melemah ke 88,85 pada pembukaan Jumat saat Rupee menguat dan pasar menunggu data WPI India serta sinyal kebijakan AS–India. Simak analisis lengkapnya.

PipTrail – Pasangan USD/INR mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan Jumat ketika Rupee India kembali menguat terhadap Dolar AS. Pergerakan ini berlangsung di tengah sikap hati-hati para investor menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat serta laporan Inflasi Indeks Harga Grosir (WPI) India untuk Oktober. Dengan meningkatnya ketidakpastian global dan adanya sinyal kebijakan moneter yang beragam dari bank sentral AS maupun India, dinamika USD/INR menjadi fokus utama pelaku pasar valuta asing.

Meskipun Rupee sempat terapresiasi tipis, pelaku pasar tetap berhati-hati karena data inflasi grosir India diperkirakan menurun sebesar 0,6% secara tahunan setelah pada September justru meningkat 0,13%. Penurunan ini, bila terkonfirmasi, dapat memperkuat keyakinan pasar bahwa Reserve Bank of India (RBI) memiliki ruang lebih besar untuk mempertimbangkan pemotongan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan Desember. Ekspektasi tersebut semakin diperkuat oleh rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) India untuk Oktober yang menunjukkan inflasi naik secara moderat sebesar 0,25% secara tahunan—angka yang masih dalam rentang nyaman bagi bank sentral.

USD/INR Melemah di Tengah Antisipasi Rilis Data Inflasi WPI

Saat sesi Asia dibuka, USD/INR bergerak menurun ke sekitar level 88,85. Sentimen pasar cenderung berhati-hati karena rilis data WPI dipandang sebagai salah satu pemicu utama arah kebijakan RBI dalam jangka pendek. Bila inflasi grosir menurun lebih dalam dari ekspektasi, hal tersebut dapat memperkuat alasan bank sentral untuk menurunkan suku bunga demi mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor manufaktur dan industri.

Ekspektasi pemotongan suku bunga ini mendapatkan dukungan dari kondisi inflasi yang stabil. Dengan CPI berada pada tingkat yang masih moderat, risiko tekanan harga yang berlebihan relatif kecil, sehingga ruang kebijakan moneter lebih fleksibel. Meski demikian, pasar tetap mempertimbangkan kondisi eksternal, termasuk perkembangan ekonomi global dan sentimen terhadap Dolar AS.

USD/INR Terpengaruh Ketegangan Perdagangan antara AS dan India

Secara umum, tren jangka menengah USD/INR masih cenderung naik dalam beberapa minggu terakhir. Pasangan mata uang ini bahkan sempat mendekati level tertinggi sepanjang masa di sekitar 89,10. Salah satu faktor utama yang menahan penguatan Rupee adalah ketidakpastian menyangkut hubungan dagang antara Amerika Serikat dan India. Hingga saat ini, kedua negara belum mencapai kesepakatan perdagangan baru, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai potensi dampak terhadap arus perdagangan dan investasi.

Untuk menahan pelemahan berlebihan pada Rupee, RBI telah beberapa kali melakukan intervensi di pasar valuta asing sejak Agustus. Intervensi berupa penjualan Dolar AS ini dilakukan untuk menjaga Rupee agar tidak menembus level-level kritis yang dapat memicu volatilitas lebih tinggi. Di sisi lain, ketidakpastian global membuat investor asing semakin berhati-hati. Investor Institusi Asing (FII) tercatat sebagai penjual bersih selama empat hari berturut-turut dengan total penjualan sebesar Rs 383,68 crore. Arus keluar dana asing ini turut memberikan tekanan pada Rupee, sehingga stabilisasi USD/INR menjadi semakin penting.

USD/INR Turun Akibat Pelemahan Dolar AS Menjelang Rilis Data Ekonomi

Pelemahan pasangan USD/INR juga disebabkan oleh melemahnya Dolar AS itu sendiri. Indeks Dolar (DXY) diperdagangkan di sekitar 99,15 dan mendekati level terendah dua minggu akibat ekspektasi bahwa data ekonomi Amerika Serikat yang tertunda akibat penutupan pemerintah akan menunjukkan pelemahan lebih lanjut. Beberapa analis memperkirakan bahwa data ekonomi AS minggu depan akan mencerminkan perlambatan yang lebih tajam, sehingga memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin mempertimbangkan pemotongan suku bunga pada pertemuan bulan Desember.

Namun demikian, peluang pemotongan suku bunga tersebut telah menurun menjadi sekitar 50% dari sebelumnya berada di atas 60%. Hal ini terjadi setelah beberapa pejabat Federal Reserve, termasuk Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, menyampaikan pandangan yang lebih hati-hati. Mereka menegaskan bahwa meskipun sektor ketenagakerjaan menunjukkan tanda-tanda perlambatan, risiko inflasi yang masih tinggi mengharuskan bank sentral mempertahankan kebijakan yang ketat dalam jangka waktu lebih lama.

USD/INR: Analisis Teknikal Masih Menunjukkan Tren Bullish

Dari sisi teknikal, tren jangka pendek USD/INR masih menunjukkan kecenderungan bullish meskipun terjadi koreksi ke 88,85. Harga saat ini tetap berada di atas Exponential Moving Average (EMA) 20 hari di sekitar 88,69. Selama harga bertahan di atas area ini, bias bullish dinilai masih valid.

Indikator RSI 14-hari berusaha kembali ke area di atas 60, yang biasanya menjadi sinyal awal bagi momentum kenaikan baru. Dari sisi level teknikal, support terdekat berada pada area EMA 20 hari di 88,70, kemudian diikuti oleh level terendah 21 Agustus di 87,07. Jika koreksi mendalam terjadi, support lanjutan terlihat di sekitar 86,50.

Di sisi atas, resistance utama berada pada level tertinggi sepanjang masa di 89,12. Jika level ini ditembus dengan volume yang kuat, target berikutnya berada di sekitar 89,50 yang menjadi proyeksi lanjutan tren bullish.

Tren USD/INR Ditentukan oleh Data India dan AS

Dalam waktu dekat, arah pergerakan USD/INR akan sangat bergantung pada data ekonomi dari India dan Amerika Serikat. Rupee mendapat dukungan dari potensi penurunan inflasi grosir dan kemungkinan pelonggaran kebijakan RBI. Namun, tantangan tetap ada, terutama dari ketegangan dagang AS–India dan arus keluar dana asing.

Jika data ekonomi AS melemah lebih jauh, Dolar AS dapat tertekan dan memberi ruang bagi USD/INR untuk turun lebih dalam. Namun, bila data AS kuat atau jika Federal Reserve kembali menunjukkan sikap hawkish, pasangan ini mungkin kembali menguji level puncaknya.

Related Posts

USD/CAD Bertahan di 1,39 usai IHK AS

USD/CAD bertahan kuat di dekat 1,3900 setelah data inflasi AS sesuai ekspektasi memperkuat pandangan The Fed yang berhati-hati. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan Iran berpotensi membatasi penguatan dolar AS terhadap…

IHSG Pecahkan Rekor 9.021, Investor Tahan Gas Jelang BI

IHSG mencetak rekor tertinggi baru di 9.021,14 namun bergerak tertahan setelahnya. Minim katalis domestik membuat investor menahan aksi jelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pekan depan, sementara emas Antam kembali…

One thought on “USD/INR 88,85 Melemah di Awal Perdagangan Jumat Saat Rupee Menguat dan Pasar Menunggu Data WPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *