
Pasangan mata uang USD/INR melemah pada perdagangan Kamis setelah mencatat kenaikan moderat di sesi sebelumnya. Pelemahan terjadi ketika Rupee India (INR) menemukan dukungan, sementara sebagian besar mata uang Asia bergerak stabil meskipun imbal hasil Treasury Amerika Serikat (AS) tetap tinggi menyusul data ketenagakerjaan AS yang kuat.
Sejumlah pedagang yang dikutip Reuters menyebut bahwa Reserve Bank of India (RBI) kemungkinan melakukan intervensi di pasar, membantu Rupee dibuka lebih kuat.
Seorang pedagang bank mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan sementara antara AS dan India serta data ketenagakerjaan terbaru “tidak mengubah apa pun” secara signifikan. Ia menambahkan bahwa sensitivitas Rupee terhadap faktor eksternal dalam beberapa sesi terakhir relatif terbatas. Dengan laporan payrolls yang tidak memicu volatilitas besar di kelas aset lain, fokus pasar kini kembali pada arus dolar domestik dan posisi pasar.
Rupee juga mendapat dukungan dari arus masuk ekuitas serta pelemahan Dolar AS secara luas. Namun, potensi penguatan lebih lanjut dinilai terbatas karena masih adanya permintaan Greenback dari korporasi domestik.
Dolar AS Melemah Meski Ekspektasi The Fed Tetap Hawkish
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja Dolar terhadap enam mata uang utama, memangkas kenaikan sebelumnya dan diperdagangkan di sekitar 96,80 saat laporan ini ditulis. Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang dijadwalkan pada Jumat.
Dolar AS melemah meskipun ekspektasi meningkat bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tetap. Berdasarkan alat CME FedWatch, probabilitas suku bunga tidak berubah pada pertemuan berikutnya kini mencapai hampir 94%, naik dari sekitar 80% sehari sebelumnya. Pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama kemungkinan terjadi pada Juni, dengan potensi lanjutan pada September.
Data tenaga kerja AS yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) menunjukkan Nonfarm Payrolls (NFP) meningkat 130.000 pada Januari, melampaui ekspektasi pasar sebesar 70.000. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,3% dari 4,4%.
Sementara itu, data Penjualan Ritel AS stagnan di level $735 miliar pada Desember, gagal memenuhi ekspektasi kenaikan 0,4%. Secara tahunan, penjualan ritel tumbuh 2,4%.
Ekspektasi inflasi satu tahun ke depan turun menjadi 3,1%, level terendah dalam enam bulan, sementara ekspektasi jangka menengah dan panjang tetap stabil di 3%.
Pejabat Federal Reserve juga memberikan pernyataan yang hati-hati. Gubernur Fed Philip Jefferson menegaskan bahwa kebijakan ke depan akan bergantung pada data masuk, sedangkan Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic menyatakan inflasi masih bertahan tinggi dan risiko tidak bisa diabaikan.
Kesepakatan Dagang AS–India Perkuat Rupee
AS dan India meluncurkan kerangka kerja perdagangan sementara yang bertujuan menurunkan tarif dan memperkuat kerja sama ekonomi. Kesepakatan ini mencakup pembelian lebih dari $500 miliar oleh India, pengurangan tarif industri dan pertanian, serta ketentuan perdagangan digital.
India juga akan menurunkan atau menghapus tarif pada berbagai produk AS, termasuk biji-bijian, minyak nabati, buah-buahan, anggur, dan minuman keras. Kesepakatan ini membantu mendorong Rupee mencatat kenaikan mingguan terkuatnya dalam lebih dari tiga tahun.
Analisis Teknis USD/INR
USD/INR diperdagangkan di sekitar 90,60 setelah terkoreksi dari Exponential Moving Average (EMA) sembilan hari.
Grafik harian menunjukkan bias bearish jangka pendek dengan pergerakan dalam pola descending channel. Namun, EMA 50-hari tetap mengarah naik, menjaga bias jangka menengah tetap konstruktif selama harga bertahan di atasnya.
EMA sembilan hari berada di 90,86 dan menjadi resistance terdekat. Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di 49,74, mencerminkan momentum netral setelah sebelumnya berada di area overbought.
Level Teknis Penting
Support awal: 90,51 (EMA 50-hari)
Support berikutnya: 90,15
Target bawah channel: 89,10
Resistance terdekat: 90,83 (EMA 9-hari)
Resistance channel atas: 91,50
Resistance lanjutan: 92,51 (puncak 28 Januari)




