
Yen Jepang melemah ke terendah dua pekan terhadap Dolar AS, mendorong USD/JPY menembus 157 seiring sentimen risk-off, divergensi kebijakan BoJ–The Fed, dan dukungan teknikal.
PipTrail – Yen Jepang kembali berada di bawah tekanan dan melemah ke level terendah hampir dua minggu terhadap Dolar AS pada awal pekan. Pelemahan ini mendorong pasangan USD/JPY menembus level psikologis 157,00, menandai penguatan Dolar AS untuk hari keempat berturut-turut. Pergerakan tersebut mencerminkan kombinasi antara sentimen global yang menghindari risiko dan ketidakpastian arah kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ).
Di sisi lain, Dolar AS mendapat dukungan kuat dari statusnya sebagai mata uang cadangan global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi agresif terhadap Yen, meskipun mata uang Jepang tersebut dikenal sebagai aset safe-haven.
Tekanan pada Yen Jepang Belum Mereda
Sikap Hati-hati Bank of Japan
Salah satu faktor utama pelemahan Yen adalah sikap hati-hati BoJ terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut. Meskipun BoJ telah menaikkan suku bunga acuannya ke 0,75% pada Desember, level tertinggi dalam 30 tahun, bank sentral Jepang belum memberikan garis waktu yang jelas mengenai kenaikan berikutnya.
BoJ menegaskan bahwa langkah penyesuaian lanjutan akan sangat bergantung pada kondisi ekonomi, khususnya perkembangan inflasi dan pertumbuhan upah. Ketidakpastian ini membuat investor meragukan kecepatan normalisasi kebijakan moneter Jepang, sehingga minat terhadap Yen tetap terbatas.
Inflasi dan Upah Jadi Penentu
BoJ diperkirakan baru akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan apabila kenaikan upah yang solid terkonfirmasi dalam negosiasi upah musim semi atau shunto. Namun, pasar menilai sejumlah faktor, seperti subsidi energi, harga beras yang relatif stabil, dan biaya energi yang rendah, berpotensi menahan inflasi Jepang tetap moderat hingga 2026.
Kondisi tersebut membuat Yen kehilangan daya tariknya, terutama ketika dibandingkan dengan mata uang lain yang didukung oleh prospek imbal hasil lebih tinggi atau arus modal global yang lebih besar.
Dolar AS Diuntungkan Sentimen Global
Risk-Off Dorong Permintaan USD
Penguatan USD didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik global, termasuk konflik internasional dan ketidakpastian politik. Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung meningkatkan eksposur terhadap Dolar AS karena likuiditas dan stabilitasnya.
Aliran dana ke USD ini memberikan tekanan tambahan pada Yen Jepang, meskipun keduanya sama-sama dikategorikan sebagai mata uang safe-haven. Perbedaan utamanya terletak pada likuiditas global dan peran USD dalam sistem keuangan internasional.
Ekspektasi Kebijakan The Fed
Meskipun USD menguat, potensi kenaikan lebih lanjut dibatasi oleh ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve. Pasar memperkirakan The Fed dapat mulai memangkas suku bunga secepat Maret, dengan peluang pemangkasan lanjutan di sepanjang tahun.
Selain itu, kekhawatiran mengenai independensi The Fed juga menjadi perhatian investor. Faktor-faktor ini membuat sebagian pelaku pasar memilih bersikap hati-hati dalam mengejar penguatan USD yang lebih agresif, terutama menjelang rilis data ekonomi penting.
Divergensi Kebijakan BoJ dan The Fed
Perbedaan Arah Moneter
Pergerakan USD/JPY sangat dipengaruhi oleh divergensi ekspektasi kebijakan antara BoJ dan The Fed. Di satu sisi, BoJ masih berada dalam fase awal normalisasi kebijakan. Di sisi lain, The Fed justru diperkirakan akan memasuki siklus pelonggaran.
Perbedaan arah ini menciptakan dinamika yang kompleks. Secara teori, normalisasi BoJ seharusnya mendukung Yen. Namun, ketidakpastian waktu dan skala pengetatan membuat pasar belum sepenuhnya percaya diri untuk mengambil posisi bullish pada JPY.
Risiko Intervensi Pemerintah Jepang
Pelemahan Yen yang terlalu cepat juga meningkatkan spekulasi intervensi dari otoritas Jepang. Pemerintah dan bank sentral Jepang sebelumnya telah menunjukkan kesiapan untuk bertindak jika pergerakan mata uang dianggap berlebihan.
Spekulasi ini menjadi faktor penahan bagi para penjual Yen yang agresif, karena potensi intervensi dapat memicu pembalikan arah yang tajam dalam waktu singkat.
Analisis Teknikal USD/JPY
Struktur Teknikal Masih Bullish
Dari sisi teknikal, USD/JPY menunjukkan pengaturan yang konstruktif. Pasangan ini bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 200 periode, yang kini berada di sekitar 156,04 dan berfungsi sebagai support dinamis penting.
Indikator MACD berada di atas garis sinyal dan di wilayah positif, dengan histogram yang meningkat. Hal ini mengindikasikan momentum bullish masih terjaga.
RSI Dukung Kelanjutan Tren
Indeks Kekuatan Relatif (RSI) berada di kisaran 64, menunjukkan momentum naik tanpa masuk ke wilayah jenuh beli. Selama USD/JPY bertahan di atas SMA 200 yang miring ke atas, bias kenaikan masih dominan.
Namun, penutupan harian di bawah SMA 200 dapat menggeser bias menuju fase konsolidasi atau koreksi jangka pendek.
Fokus Pasar ke Data AS
Ke depan, perhatian investor tertuju pada rilis data ekonomi AS, dimulai dengan PMI Manufaktur ISM dan diakhiri oleh laporan Nonfarm Payrolls. Data-data ini akan menjadi penentu arah ekspektasi kebijakan The Fed dan berpotensi memicu volatilitas lanjutan pada pasangan USD/JPY.
Dengan kombinasi faktor fundamental dan teknikal yang ada, pergerakan USD/JPY diperkirakan tetap fluktuatif, sementara Yen Jepang masih berjuang keluar dari tekanan jangka pendek.





