WTI Naik di Atas $57, Prospek Permintaan Menguat

Harga minyak WTI bergerak di atas $57 per barel didukung prospek permintaan Tiongkok, kebijakan fiskal 2026, dan faktor geopolitik global.

PipTrail – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak lebih tinggi pada awal perdagangan sesi Asia, diperdagangkan di kisaran $57,10 per barel. Kenaikan ini mencerminkan sentimen pasar yang relatif positif, didorong oleh membaiknya prospek permintaan global, khususnya dari Tiongkok, serta perkembangan geopolitik yang masih menyisakan ketidakpastian.

Pergerakan WTI di atas level psikologis $57,00 menjadi perhatian pelaku pasar, mengingat harga sebelumnya sempat tertekan oleh kekhawatiran kelebihan pasokan global dan melemahnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara besar. Pada awal pekan ini, pasar minyak mencoba membangun momentum kenaikan yang lebih stabil.

Dukungan Fiskal Tiongkok Dorong Optimisme Permintaan

Sinyal Kebijakan Proaktif 2026

Salah satu faktor utama yang menopang harga WTI adalah sinyal dukungan fiskal berkelanjutan dari pemerintah Tiongkok. Otoritas fiskal negara tersebut mengisyaratkan sikap kebijakan yang lebih proaktif pada tahun 2026, dengan tujuan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan eksternal yang masih kuat.

Pemerintah Tiongkok menegaskan komitmennya untuk mendorong pertumbuhan melalui kebijakan belanja yang lebih terarah. Hal ini memberikan harapan bahwa aktivitas industri dan konsumsi energi akan tetap terjaga dalam jangka menengah.

Fokus Investasi Sektor Prioritas

Dalam rencana fiskalnya, Beijing menargetkan ekspansi investasi di sejumlah sektor prioritas, seperti manufaktur canggih, inovasi teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Strategi ini bertujuan memperkuat daya saing ekonomi sekaligus menciptakan permintaan energi yang berkelanjutan.

Sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, setiap indikasi penguatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok sering kali berdampak langsung pada pasar minyak global. Oleh karena itu, sinyal kebijakan fiskal yang akomodatif dinilai mampu memberikan dukungan fundamental bagi harga WTI.

Pasar Menanti Data Stok Minyak AS

Fokus pada Laporan API

Selain faktor permintaan, pelaku pasar juga bersikap hati-hati menjelang rilis laporan stok minyak mentah mingguan dari American Petroleum Institute (API). Data ini kerap dijadikan indikator awal untuk mengukur keseimbangan pasokan dan permintaan di Amerika Serikat.

Jika laporan menunjukkan penurunan stok yang signifikan, harga WTI berpotensi mendapatkan dorongan tambahan. Sebaliknya, peningkatan stok yang lebih besar dari perkiraan dapat kembali menekan harga dalam jangka pendek.

Dinamika Permintaan Musiman

Memasuki akhir tahun, permintaan energi biasanya dipengaruhi oleh faktor musiman, termasuk kebutuhan pemanas dan aktivitas transportasi. Pasar akan mencermati apakah permintaan domestik AS cukup kuat untuk menyerap pasokan yang ada.

Geopolitik Ukraina Masih Jadi Faktor Risiko

Perundingan Damai Belum Temui Terobosan

Dari sisi geopolitik, perundingan yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik di Ukraina belum menghasilkan terobosan yang jelas. Meski terdapat klaim kemajuan dalam pembicaraan damai, sejumlah isu sensitif, khususnya terkait wilayah, masih belum menemukan titik temu.

Ketidakpastian ini tetap menjadi faktor risiko bagi pasar energi global. Konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan, terutama jika terjadi eskalasi yang melibatkan negara-negara produsen atau jalur distribusi energi strategis.

Dampak Terhadap Harga Minyak

Selama ketidakpastian geopolitik bertahan, harga minyak cenderung mendapatkan premi risiko. Namun, pasar juga menyadari bahwa tanpa eskalasi nyata, dampak kenaikan harga dari faktor geopolitik bisa bersifat terbatas.

Kenaikan WTI Dibatasi Risiko Kelebihan Pasokan

Produksi OPEC+ Meningkat

Meski sentimen permintaan membaik, peluang kenaikan harga WTI dinilai masih terbatas. Salah satu penyebab utamanya adalah kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan global. Kelompok OPEC+ telah menyepakati peningkatan produksi secara moderat sebesar 137.000 barel per hari untuk bulan Desember.

Langkah ini menambah pasokan di pasar yang sebelumnya sudah relatif longgar. Jika permintaan global tidak tumbuh sesuai ekspektasi, tekanan terhadap harga minyak dapat kembali muncul.

Keseimbangan Pasar Masih Rapuh

Kondisi pasar minyak saat ini berada dalam fase keseimbangan yang rapuh, di mana faktor permintaan dan pasokan saling tarik-menarik. Dukungan dari Tiongkok dan risiko geopolitik bersaing dengan peningkatan produksi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Prospek Jangka Pendek WTI

Dalam jangka pendek, pergerakan WTI diperkirakan akan tetap fluktuatif di sekitar level $56–$58 per barel. Pasar akan terus memantau perkembangan kebijakan ekonomi Tiongkok, data persediaan minyak AS, serta dinamika geopolitik global.

Selama tidak ada katalis besar yang benar-benar dominan, harga WTI cenderung bergerak terbatas dengan bias moderat ke atas, seiring harapan bahwa permintaan global masih mampu menyerap tambahan pasokan yang ada.

Related Posts

USD/CAD Bertahan di 1,39 usai IHK AS

USD/CAD bertahan kuat di dekat 1,3900 setelah data inflasi AS sesuai ekspektasi memperkuat pandangan The Fed yang berhati-hati. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan Iran berpotensi membatasi penguatan dolar AS terhadap…

IHSG Pecahkan Rekor 9.021, Investor Tahan Gas Jelang BI

IHSG mencetak rekor tertinggi baru di 9.021,14 namun bergerak tertahan setelahnya. Minim katalis domestik membuat investor menahan aksi jelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pekan depan, sementara emas Antam kembali…

One thought on “WTI Naik di Atas $57, Prospek Permintaan Menguat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *