Yen Jepang Melemah 2% Jelang BoJ

Yen Jepang melemah meski inflasi nasional bertahan di atas target. Investor menanti sinyal kebijakan BoJ sementara USD/JPY bertahan dekat level tertinggi mingguan.

PipTrail – Yen Jepang kembali melemah pada perdagangan Jumat di sesi Asia, meskipun data inflasi nasional Jepang menunjukkan angka yang relatif kuat. Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang memilih menunggu kejelasan arah kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ), khususnya menjelang konferensi pers Gubernur Kazuo Ueda.

Tekanan pada Yen terjadi saat pasangan USD/JPY bergerak mendekati level tertinggi mingguan. Kondisi tersebut menandakan bahwa faktor fundamental domestik Jepang belum cukup kuat untuk memicu arus beli Yen dalam jangka pendek, meskipun inflasi masih bertahan di atas target bank sentral.

Pasar Menanti Sinyal Kebijakan BoJ

Inflasi Jepang Masih di Atas Target

Biro Statistik Jepang melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) Nasional meningkat 2,9% secara tahunan pada November. Angka ini sedikit menurun dari 3,0% pada bulan sebelumnya, namun tetap jauh di atas target inflasi BoJ sebesar 2%.

Sementara itu, IHK inti yang tidak memasukkan harga makanan segar bertahan di level 3%, sesuai ekspektasi pasar. Adapun inflasi inti yang tidak mencakup makanan segar dan energi—indikator yang sangat diperhatikan BoJ—turun tipis dari 3,1% menjadi 3,0%. Meski melambat, tekanan harga secara keseluruhan masih menunjukkan tren inflasi yang relatif tinggi.

Investor Masih Ragu Ambil Posisi Yen

Meski data inflasi memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter, pelaku pasar belum agresif membeli Yen. Investor memilih menunggu pernyataan resmi BoJ terkait arah kebijakan ke depan, terutama untuk periode menuju 2026.

Ketidakpastian ini membuat Yen kehilangan daya tarik sebagai aset safe haven, terlebih di tengah membaiknya sentimen risiko global. Optimisme pasar terhadap kemungkinan suku bunga AS yang lebih rendah turut menekan permintaan Yen.

Masalah Fiskal Jepang Jadi Beban Tambahan

Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang juga berkontribusi terhadap pelemahan mata uangnya. Rasio utang publik Jepang yang mendekati 250% dari Produk Domestik Bruto terus menjadi perhatian investor global.

Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang belakangan ini memicu kekhawatiran akan keberlanjutan fiskal, terlebih dengan rencana belanja besar pemerintah baru. Faktor ini berpotensi membatasi ruang penguatan Yen, meskipun BoJ bersikap lebih hawkish.

Dolar AS Tetap Kuat Meski Inflasi AS Melambat

Data IHK AS Lebih Rendah dari Perkiraan

Dari Amerika Serikat, data inflasi terbaru menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Indeks Harga Konsumen AS tercatat naik 2,7% secara tahunan pada November, lebih rendah dari perkiraan pasar. Inflasi inti AS juga tercatat 2,6%, di bawah estimasi sebelumnya.

Data ini memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda, membuka ruang bagi Federal Reserve untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Pasar saat ini memproyeksikan pemangkasan suku bunga kumulatif sekitar 63 basis poin oleh The Fed pada 2026. Pernyataan Presiden AS mengenai preferensi terhadap kebijakan suku bunga yang lebih rendah turut memperkuat ekspektasi tersebut.

Namun, meskipun inflasi AS melemah, Dolar AS tetap bertahan dekat level tertinggi mingguan. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih melihat USD sebagai mata uang yang relatif solid dalam jangka pendek, terutama dibandingkan Yen yang dibayangi ketidakpastian kebijakan BoJ.

USD/JPY Bergerak Stabil Jelang Akhir Pekan

Pelaku pasar kini mencermati agenda ekonomi AS berikutnya, termasuk data Penjualan Rumah Bekas dan Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan. Meski demikian, pasangan USD/JPY diperkirakan akan menutup pekan ini dengan pergerakan yang relatif datar.

Kondisi tersebut mencerminkan keseimbangan antara ekspektasi kebijakan dovish The Fed dan potensi sikap hawkish BoJ, yang membuat investor enggan mengambil posisi agresif dalam jangka pendek.

Analisis Teknikal USD/JPY

Area Kunci untuk Penguatan

Dari sisi teknikal, USD/JPY masih bergerak di atas Simple Moving Average (SMA) 100-jam. Penembusan yang berkelanjutan di atas level 156,00 berpotensi menjadi pemicu lanjutan bagi penguatan pasangan ini.

Jika momentum positif berlanjut, USD/JPY berpeluang menguji area 157,00, yang merupakan level tertinggi bulanan sebelumnya. Hambatan terdekat berada di kisaran 156,55–156,60.

Risiko Penurunan Masih Terbuka

Di sisi bawah, area 155,30 yang sebelumnya menjadi resistance kini berperan sebagai support awal. Penurunan di bawah level psikologis 155,00 dapat memicu aksi jual teknikal lanjutan.

Jika tekanan jual berlanjut, USD/JPY berpotensi turun menuju area 154,35–154,30, yang merupakan level terendah bulanan. Penembusan di bawah 154,00 dapat menggeser bias pasar kembali berpihak pada pelemahan USD terhadap Yen.

Related Posts

USD/CAD Bertahan di 1,39 usai IHK AS

USD/CAD bertahan kuat di dekat 1,3900 setelah data inflasi AS sesuai ekspektasi memperkuat pandangan The Fed yang berhati-hati. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan Iran berpotensi membatasi penguatan dolar AS terhadap…

IHSG Pecahkan Rekor 9.021, Investor Tahan Gas Jelang BI

IHSG mencetak rekor tertinggi baru di 9.021,14 namun bergerak tertahan setelahnya. Minim katalis domestik membuat investor menahan aksi jelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pekan depan, sementara emas Antam kembali…

One thought on “Yen Jepang Melemah 2% Jelang BoJ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *