BoJ, 7 Poin Penting Pernyataan Ueda soal Yen Melemah yang Mengguncang Pasar

BoJ sebut pelemahan Yen makin tekan harga impor. Berikut 7 poin penting pernyataan Ueda dan dampaknya ke pasar.

PipTrail – Gubernur Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda, kembali menjadi sorotan pasar global setelah menyampaikan bahwa pelemahan Yen Jepang (JPY) semakin memberi tekanan pada biaya impor serta inflasi konsumen. Pernyataan yang disampaikan pada hari Jumat tersebut menegaskan bahwa pergerakan valuta asing kini memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun lalu, terutama dalam lingkungan ekonomi Jepang yang tengah berubah.

Komentar Ueda ini muncul di tengah situasi USD/JPY yang sempat menyentuh level tinggi, sebelum kemudian terkoreksi tipis 0,21% menjadi 157,25 saat berita ini dirilis. Reaksi pasar yang cepat mencerminkan sensitivitas pelaku keuangan terhadap panduan kebijakan BoJ, mengingat bank sentral Jepang masih dianggap sebagai salah satu yang paling berhati-hati dalam proses normalisasi kebijakan moneter.

7 Poin Penting dari Pernyataan Kazuo Ueda

Untuk memahami konteks pasar, berikut adalah tujuh kutipan utama sekaligus poin penting dari pernyataan Ueda:

  1. Perusahaan Jepang kini lebih berani menaikkan upah dan harga
    Hal ini menandakan perubahan struktural dalam ekonomi Jepang, setelah bertahun-tahun menghadapi deflasi dan upah stagnan.
  2. Fluktuasi mata uang kini memiliki dampak lebih besar dibandingkan masa lalu
    Dengan struktur biaya yang berubah dan sektor impor yang besar, pelemahan Yen kini langsung memicu inflasi lebih cepat.
  3. Pergerakan nilai tukar dapat memengaruhi ekspektasi inflasi
    Ekspektasi inflasi yang meningkat dapat mendorong perusahaan dan konsumen menyesuaikan perilaku harga dan konsumsi.
  4. Inflasi inti berpotensi ikut terdorong oleh volatilitas valuta asing
    BoJ kini memantau potensi transmisi FX terhadap inflasi inti, bukan hanya harga energi dan pangan.
  5. BoJ akan memeriksa dampak volatilitas FX secara menyeluruh
    Ini menjadi sinyal penting bahwa bank sentral mempertimbangkan langkah lanjutan jika pelemahan Yen dianggap “tidak wajar”.
  6. Komentar ini memberi sinyal kewaspadaan terhadap pelemahan JPY
    Pasar menafsirkan bahwa BoJ tidak sepenuhnya pasif terhadap penurunan nilai Yen.
  7. Pernyataan Ueda mempengaruhi pasar dalam hitungan menit
    USD/JPY langsung bergerak turun, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap arah kebijakan BoJ.

Apa itu Bank of Japan (BoJ)?

Bank of Japan adalah bank sentral Jepang yang bertanggung jawab atas penerbitan uang kertas, pengaturan kebijakan moneter, dan menjaga stabilitas harga di negara tersebut. Mandat inflasi BoJ berada pada kisaran 2%, sebuah target yang selama bertahun-tahun sulit dicapai karena Jepang mengalami stagnasi harga dan pertumbuhan ekonomi lemah.

BoJ memiliki peran vital dalam perekonomian Jepang yang sangat bergantung pada ekspor dan impor energi. Karena itu, pelemahan atau penguatan Yen memiliki dampak langsung pada biaya produksi dan harga konsumen.

Sejarah Kebijakan Moneter Ultra-Longgar BoJ

Pada tahun 2013, BoJ meluncurkan kebijakan moneter ultra-longgar bernama Quantitative and Qualitative Easing (QQE). Kebijakan ini mencakup:

  • Pencetakan uang dalam skala besar (quantitative easing)
  • Pembelian aset seperti obligasi pemerintah
  • Mendorong penurunan imbal hasil obligasi
  • Menyuntikkan likuiditas untuk merangsang ekonomi

Pada tahun 2016, BoJ memperkuat kebijakan ini dengan:

  1. Memperkenalkan suku bunga negatif (-0,1%)
  2. Mengendalikan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun atau Yield Curve Control (YCC)
  3. Menargetkan suku bunga jangka panjang tetap rendah

Kombinasi kebijakan ini bertujuan mendorong inflasi, pertumbuhan kredit, serta pengeluaran konsumsi.

Namun, pada Maret 2024, BoJ akhirnya menaikkan suku bunga untuk pertama kali dalam 17 tahun. Ini secara efektif menandai awal berakhirnya era kebijakan moneter ultra-longgar.

Bagaimana Kebijakan BoJ Mempengaruhi Yen Jepang?

Stimulus besar-besaran BoJ menyebabkan Yen melemah terhadap mata uang utama lainnya. Ketika bank-bank sentral besar seperti Federal Reserve dan ECB menaikkan suku bunga tinggi untuk melawan inflasi global pada 2022–2023, perbedaan suku bunga antara Jepang dan negara lain melebar drastis. Akibatnya:

  • Investor lebih memilih aset dolar atau euro
  • Kapital keluar dari Jepang
  • Yen tertekan dan terus melemah

Kondisi ini berubah sedikit pada 2024 setelah BoJ menaikkan suku bunga. Namun, tren pelemahan masih berlanjut karena kebijakan BoJ tetap lebih longgar dibandingkan bank sentral lain.

Mengapa BoJ Mulai Mengakhiri Kebijakan Ultra-Longgarnya?

Ada beberapa alasan utama:

  1. Inflasi Jepang menembus target 2%
    Pelemahan Yen dan kenaikan harga energi global menjadi pemicu utama.
  2. Kenaikan gaji mulai konsisten
    Jepang untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade melihat pertumbuhan upah yang stabil.
  3. Risiko inflasi berkelanjutan meningkat
    Tren ini membangkitkan kekhawatiran akan spiral harga-upah.
  4. Volatilitas Yen menjadi semakin signifikan
    Kurs JPY menjadi salah satu pasangan paling fluktuatif di G-10.

Related Posts

USD/CAD Bertahan di 1,39 usai IHK AS

USD/CAD bertahan kuat di dekat 1,3900 setelah data inflasi AS sesuai ekspektasi memperkuat pandangan The Fed yang berhati-hati. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan Iran berpotensi membatasi penguatan dolar AS terhadap…

IHSG Pecahkan Rekor 9.021, Investor Tahan Gas Jelang BI

IHSG mencetak rekor tertinggi baru di 9.021,14 namun bergerak tertahan setelahnya. Minim katalis domestik membuat investor menahan aksi jelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pekan depan, sementara emas Antam kembali…

One thought on “BoJ, 7 Poin Penting Pernyataan Ueda soal Yen Melemah yang Mengguncang Pasar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *