Yuan offshore turun 0,26% ke 6,6642 per dolar pada 3 November 2026, penurunan harian terbesar sejak Juni, setelah People’s Bank of China menaikkan rasio giro wajib minimum valas dari 4% ke 6% mulai 15 November dan menetapkan kurs tengah 6,7150, jauh lebih lemah dari perkiraan 6,6489. Kedua langkah ini menunjukkan Beijing ingin memperlambat penguatan yuan.
Pelemahan yuan terjadi bersamaan dengan anjloknya KOSPI sekitar 3,7% dan melemahnya dolar Australia setelah keputusan RBA, memperberat sentimen mata uang Asia.

Apa yang Dilakukan PBOC?
PBOC mengambil dua langkah sekaligus. Pertama, menaikkan giro wajib minimum valas sehingga bank harus menyimpan lebih banyak dolar di bank sentral, mengurangi dolar di pasar domestik. Kedua, menetapkan kurs tengah yang jauh lebih lemah dari perkiraan pasar, sebuah sinyal arah kebijakan yang jelas. Kombinasi ini membuat dolar lebih mahal terhadap yuan di pasar domestik dan luar negeri.
Mengapa Tiongkok Menahan Penguatan Yuan?

Yuan menguat cukup signifikan sepanjang tahun. Yuan yang terlalu kuat bisa merugikan eksportir di tengah perlambatan ekonomi, dengan PMI manufaktur resmi Oktober turun ke 49,3. Selain itu, suku bunga Tiongkok yang relatif rendah membuat yuan offshore menarik sebagai mata uang pendanaan, yang bisa menambah volatilitas jika tidak dikendalikan.
Bagaimana Dampaknya ke Dolar Australia?
Australia mengekspor komoditas dalam jumlah besar ke Tiongkok. Sinyal pelemahan yuan dan perlambatan ekonomi Tiongkok cenderung menekan dolar Australia. Pada 3 November, AUD juga melemah setelah RBA menaikkan suku bunga ke 4,85% dengan voting 6–3. Analisis AUD/USD hari ini ada di analisa AUD/USD hari ini 3 November 2026.
Bagaimana Dampaknya ke Won Korea?
Korea Selatan bersaing dengan Tiongkok di pasar ekspor, terutama elektronik dan semikonduktor. Yuan yang lebih lemah membuat produk Tiongkok lebih murah, yang bisa menekan won. Pada 3 November, KOSPI anjlok sekitar 3,7% di tengah aksi jual saham teknologi global, menambah tekanan pada won.
| Mata uang | Jalur pengaruh | Reaksi 3 Nov |
|---|---|---|
| AUD | Ekspor komoditas ke Tiongkok | Melemah |
| KRW | Persaingan ekspor | Tertekan |
| IDR | Perdagangan dan sentimen | Relatif stabil |
Bagaimana dengan Rupiah?
Rupiah dibuka sedikit menguat di Rp18.149 per dolar pada 3 November, didukung penurunan harga minyak yang mengurangi kebutuhan dolar untuk impor energi. Namun, jika yuan terus melemah dalam beberapa pekan, tekanan bisa merambat ke rupiah melalui jalur perdagangan dan sentimen regional.
Bagaimana Bursa Asia Bereaksi?
KOSPI Korea Selatan anjlok sekitar 3,7% dan Kosdaq 3,8% pada 3 November, sementara Shanghai turun 0,7% dan Hang Seng naik 0,4%. Pasar Jepang libur. IHSG turun sekitar 2% pada sesi I. Pelemahan yuan menjadi salah satu faktor yang memperberat sentimen kawasan, bersama aksi jual saham teknologi global.
Apakah Yuan Akan Terus Melemah?
Langkah PBOC lebih bertujuan memperlambat penguatan, bukan memicu pelemahan tajam. Yuan masih berada di level yang relatif kuat dibanding awal tahun. Arah selanjutnya bergantung pada data ekonomi Tiongkok, kebijakan dagang AS, dan selisih suku bunga. Pasar akan memantau fixing harian untuk melihat apakah sinyal pelemahan berlanjut.
Bagaimana Pengaruh Pemilu AS?
Hasil pemilu sela AS bisa memengaruhi kebijakan dagang terhadap Tiongkok. Jika hasil memicu kekhawatiran tarif baru, Tiongkok mungkin lebih toleran terhadap yuan yang lemah untuk menjaga ekspor. Sebaliknya, hubungan dagang yang lebih stabil bisa mengurangi tekanan pada yuan. Analisis AUD setelah RBA juga relevan, seperti di RBA naik ke 4,85%, AUD justru melemah.
Bagaimana Sejarah Langkah Serupa?
PBOC beberapa kali memakai rasio giro wajib minimum valas untuk mengelola yuan, baik untuk menahan penguatan maupun pelemahan. Ketika yuan melemah terlalu cepat, PBOC menurunkan rasio ini agar dolar lebih banyak tersedia. Saat ini arahnya sebaliknya, yaitu menahan penguatan. Pola ini menunjukkan PBOC lebih memilih pergerakan yuan yang stabil.
Bagaimana Trader Memakai Informasi Ini?
Trader pasangan Asia dapat memakai sinyal PBOC sebagai filter. Misalnya, saat PBOC mengarahkan yuan melemah, skenario beli AUD atau mata uang Asia lain perlu konfirmasi lebih kuat. Sebaliknya, fixing yang lebih kuat dari perkiraan bisa menjadi tanda dukungan bagi mata uang kawasan.
Apa yang Perlu Dipantau Trader?
- Fixing harian PBOC sekitar pukul 08.15 WIB.
- Pergerakan USD/CNH sebagai indikator sentimen Asia.
- Data ekspor dan inflasi Tiongkok.
- Kebijakan perdagangan AS setelah pemilu sela.
Pembahasan mata uang lain yang terdampak pekan ini ada di krona Swedia terlemah G10, krone Norwegia terkuat 2026.
Informasi resmi tersedia di People’s Bank of China dan China Foreign Exchange Trade System.
Artikel ini bersifat informasi dan edukasi, bukan sinyal atau rekomendasi transaksi. Trading forex dan komoditas menggunakan leverage dan berisiko tinggi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bagaimana bursa Asia bereaksi pada 3 November?
KOSPI anjlok sekitar 3,7%, Shanghai turun 0,7%, dan Hang Seng naik 0,4%.
Berapa yuan offshore pada 3 November 2026?
Sekitar 6,6642 per dolar, turun 0,26%, terbesar sejak Juni.
Apa kebijakan baru PBOC?
Menaikkan GWM valas dari 4% ke 6% mulai 15 November dan menetapkan fixing lebih lemah dari perkiraan.
Mengapa Tiongkok menahan penguatan yuan?
Untuk menjaga daya saing ekspor di tengah perlambatan ekonomi.
Bagaimana dampaknya ke dolar Australia?
Cenderung menekan AUD karena Australia bergantung pada ekspor ke Tiongkok.
Bagaimana rupiah bereaksi?
Relatif stabil, dibuka Rp18.149, didukung penurunan harga minyak.
