
Pasangan mata uang EUR/USD mencatat penguatan moderat pada perdagangan awal sesi Asia Senin dengan bergerak di sekitar level 1,1730. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen tersebut membuat permintaan terhadap aset safe-haven seperti Dolar AS mulai berkurang.
Pasar Pantau Negosiasi AS dan Iran
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut masih menunggu respons Iran terkait proposal pembukaan kembali Selat Hormuz dan upaya penghentian konflik yang sedang berlangsung.
Seorang pejabat Iran pada Rabu menyatakan bahwa pihaknya tengah meninjau proposal damai dari AS. Proposal tersebut dikabarkan bertujuan mengakhiri konflik tanpa menghapus seluruh tuntutan utama Washington terhadap program nuklir Iran.
Perkembangan ini meningkatkan harapan pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dolar AS Tertekan oleh Sentimen Risk-On
Meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah dinilai dapat mengurangi minat investor terhadap aset aman, termasuk Dolar AS.
Kondisi tersebut menjadi faktor yang mendukung penguatan Euro terhadap Greenback dalam perdagangan awal pekan.
Pasar saat ini cenderung bergerak ke arah risk-on seiring munculnya optimisme bahwa konflik geopolitik dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi.
Data NFP AS Jadi Fokus Pasar
Meski demikian, pergerakan EUR/USD diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Nonfarm Payrolls (NFP) bulan April yang dijadwalkan pada Jumat mendatang.
Pasar memprakirakan ekonomi AS menambah sekitar 62.000 lapangan kerja baru pada April, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di level 4,3%.
Baca juga EUR/USD Diperkirakan Bergerak Konsolidasi, UOB Soroti Area 1,1665–1,1765
Data Ketenagakerjaan Berpotensi Pengaruhi Kebijakan The Fed
Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut dapat kembali mendukung penguatan Dolar AS terhadap Euro.
Sebaliknya, jika data tenaga kerja melemah, tekanan terhadap Greenback diperkirakan akan meningkat dan membuka ruang penguatan lanjutan bagi EUR/USD.





